RMK 2,3,4 EKONOMI MONETER II ( Transmisi Kebijakan Moneter )

I hope you are in good health while reading my blog


MEKANISME TRANSMISI KEBIJAKAN MONETER

  • Definisi Mekanisme Kebijakan Moneter

Mekanisme transmisi kebijakan moneter didefinisikan sebagai jalur yang dilalui oleh sebuah kebijakan moneter untuk mempengaruhi kondisi perekonomian, terutama pendapatan nasional dan laju perubahan harga.

Konsep dasar mekanisme transmisi kebijakan moneter dimulai dari instrumen kebijakan yang mempengaruhi sasaran operasional, sasaran antara dan sasaran akhir. Dalam rezim kebijakan moneter yang menggunakan kerangka kerja pentargetan inflasi, pemahaman mengenai jalur transmisi kebijakan moneter dalam perekonomian sangat diperlukan. Karena besaran target inflasi yang ditetapkan Bank Sentral dan pencapaian target inflasi tersebut akan ditentukan oleh jalur transmisi mana yang lebih dominan dalam perekonomian. 

Jika mekanisme transmisi ini kurang dipahami maka akan berakibat tidak kredibelnya kebijakan moneter yang ditetapkan. Sehingga, memahami mekanisme transmisi adalah kunci untuk dapat mengarahkan kebijakan moneter agar dapat mempengaruhi perekonomian riil dan tingkat harga. 

  • Peran dan Tujuan

sentral memiliki peran dan tujuan yang strategis dalam perekonomian suatu negara. Bank Indonesia (BI) sebagai bank sentral di Indonesia diberikan mandat untuk mencapai dan memelihara stabilitas moneter. 

Mandat ini terdapat dalam pasal 7 UU No. 3 Tahun 2004 tentang BI. Untuk mencapai tujuan tersebut,BI memiliki beberapa instrumen untuk merumuskan dan menjalankan kebijakan bank sentral atau otoritas moneter untuk menjaga stabilitas ekonomi makro melalui pengendalian besaran moneter seperti jumlah uang beredar (JUB),uang primer, atau suku bunga. Kebijakan moneter bertujuan untuk mencapai stabilitas ekonomi yang dapat diukur dengan kesempatan kerja, semakin besar gairah untuk berusaha,maka akan mengakibatkan peningkatan produksi. Untuk itu berbagai upaya dilakukan oleh Dewan Gubernur BI salah satunya melalui instrumen suku bunga (r) Surat berharga Bank Indonesia (SBI),dimana penetapan Sbi dilakukan untuk mengendalikan jumlah uang yang beredar. 

Ketika jumlah uang yang beredar di masyarakat terlalu banyak, maka hal ini akan menyebabkan terjadinya inflasi. Bank Indonesia mengusahakan pertumbuhan ekonomi semakin membaik dan relatif meningkat dan didukung oleh penguatan rupiah dan terjaganya harga-harga barang kebutuhan pokok. 

mekanisme transmisi kebijakan moneter memberikan penjelasan mengenai bagaimana perubahan (shock) instrumen kebijakan moneter dapat mempengaruhi variabel makroekonomi lainnya hingga terwujudnya sasaran akhir kebijakan moneter. Seberapa besar pengaruhnya terhadap harga dan kagiatan di sektor riil, semuanya sangat tergantung pada perilaku atau respons perbankan dan dunia usaha lainnya terhadap shock instrumen kebijakan moneter yaitu Suku Bunga Sertifikat Bank Indonesia (rSBI). Suku bunga merupakan faktor yang penting dalam perekonomian suatu negara karena sangat berpengaruh terhadap “kesehatan” suatu perekonomian. Hal ini tidak hanya mempengaruhi keinginan konsumen untuk membelanjakan ataupun menabungkan uangnya tetapi juga mempengaruhi dunia usaha dalam mengambil keputusan keputusan. 

Mekanisme bekerjanya perubahan rSBI tersebut sering menggambarkan tindakan Bank Indonesia melalui perubahan-perubahan instrumen moneter untuk mencapai target operasional, target antara dan akhirnya berpengaruh ke tujuan akhir yaitu inflasi. Mekanisme tersebut terjadi melalui interaksi antara Bank Sentral, perbankan dan sektor keuangan, serta sektor riil. Mekanisme kebijakan moneter melalui berbagai jalur, diantaranya jalur suku bunga, jalur kredit, jalur nilai tukar, jalur harga aset, dan jalur ekspektasi. Sementara itu, transmisi kebijakan moneter melalui jalur nilai tukar masih belum optimal akibat kuatnya peran ekspektasi pelaku pasar terhadap kondisi makroekonomi ke depan. Sejalan dengan beberapa temuan BI, kondisi ini mengakibatkan elastisitas perbedaan suku bunga domestik dan luar negri terhadap nilai tukar relatif kecil. Indikasi transmisi yang kurang kuat juga terdapat di jalur kredit, antara lain dipengaruhi oleh perilaku credit rationing perbankan. Adapun respon suku bunga kredit sedikit lebih rendah dibandingkan respon suku bunga deposito. Hal ini juga sejalan dengan temuan estimasi suku bunga natural (NRI) yang menunjukkan spread NRI deposito dan NRI kredit semakin melebar (Hardianto, 2004:18). 

Dari penjelasan diatas dapat dianalisis dan dibuktikan bahwa efektifitas mekanisme transmisi kebijakan moneter di indonesiadapat dilihat melalui jalur suku bunga. Indikator efektifitas tersebut diukur dengan uji Vector Auto Regression (VAR) melihat berapa kecepatan atau berapa tenggat waktu (time lag) dan berapa kontribusi variabel-variabel merespon perubahan instrumen kebijakan moneter seperti suku bunga SBI, JUB, Indeks Harga Konsumen, Indeks Harga Impor, PDB dan Kurs. Hal – hal tersebutlah yang menjadi masalah yang akan di analisis dalam penelitian ini.

Sebelum membahas lebih jauh mengenai transmisi kebijakan moneter Indonesia, terdapat 2 paradigma dalam upaya memahami mekanisme transmisi transmisi moneter, antara lain :

 1. Paradigma uang pasif ( passive money ) Paradigma uang pasif merupakan jalur suku bunga atau jalur yang dijalankan menggunakan suku bunga jangka pendek sebagai operational target yang kemudian diperkirakan akan mempengaruhi variabel – variabel harga dipasar keuangan, sektor rill dan pada akhirnya pada laju inflasi.

 2. Paradigma uang aktif ( active money ) Paradigma uang aktif merupakan suatu jalur kuantitas yang mengacu pada persamaan identitas MV = PT. Kebijakan moneter dalam pendekatan ini yaitu berusaha mengendalikan jumlah uang beredar ( M ) untuk mempengaruhi sektor rill ( P dan T ). Pendekatan ini mensyaratkan adanya velocity dan money multiplier yang bersifat stabil, atau paling tidak predictabel

  • Suku bunga sebagai alat kebijakan moneter 

Ketika bank sentral ingin menghindari hiperinflasi, ia akan mengadopsi kebijakan moneter ketat dengan menaikkan suku bunga kebijakan. Peningkatan dalam suku bunga kebijakan mengurangi tingkat pertumbuhan jumlah uang beredar dalam perekonomian. Ini kemudian mengurangi permintaan agregat dan melemahkan pertumbuhan ekonomi dan memoderasi tingkat inflasi. 

Sebaliknya, untuk menghindari deflasi – biasanya, selama pertumbuhan ekonomi lemah atau resesi – bank sentral memangkas suku bunga kebijakan. Itu dikenal sebagai kebijakan moneter ekspansif. Suku bunga yang lebih rendah mengurangi biaya pinjaman, menaikkan permintaan agregat, dan merangsang pertumbuhan ekonomi. Bisnis meningkatkan produksi mereka, mendorong PDB riil untuk tumbuh secara positif. Tingkat inflasi secara bertahap akan meningkat. 

  • Saluran mekanisme transmisi kebijakan moneter: Kasus suku bunga bunga yang lebih rendah 

Katakanlah, bank sentral mengadopsi kebijakan ekspansif untuk merangsang pertumbuhan ekonomi dengan menurunkan suku bunga kebijakan. Pemotongan suku bunga mempengaruhi ekonomi beberapa saluran, termasuk tingkat pinjaman, ekspektasi agen ekonomi, harga aset, kekayaan, dan nilai tukar.

Penurunan suku bunga pinjaman

    Bank-bank komersial merespons pemotongan suku bunga kebijakan dengan menurunkan suku bunga kredit. Akibatnya, rumah tangga dan bisnis meminjam lebih banyak karena lebih murah. 

   Mereka menggunakan pinjaman yang lebih murah untuk membeli barang dan jasa. Seiring meningkatnya permintaan barang, bisnis meresponsnya dengan meningkatkan produksi mereka. 

Agen ekonomi menjadi lebih optimis 

 Rumah tangga dan bisnis menjadi lebih percaya diri. Mereka mengaitkan suku bunga yang lebih rendah dengan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi di masa depan. Mereka mengharapkan pendapatan rumah tangga menjadi lebih tinggi dan keuntungan perusahaan meningkat. 

 Optimisme ini mendorong rumah tangga untuk meningkatkan konsumsi sekarang. Bisnis juga ingin memesan beberapa barang modal, terutama untuk peralatan ringan. 

Harga aset meningkat 

   Harga aset cenderung naik. Itu karena nilai sekarang dari perkiraan arus kas masa depan meningkat. Investor menyukai obligasi karena harga akan cenderung tumbuh ketika suku bunga turun. Meningkatnya prospek laba perusahaan juga mendorong kenaikan harga saham. Akibatnya, kekayaan rumah tangga meningkat. Kekayaan yang lebih tinggi mengarah pada pengeluaran barang dan jasa yang lebih signifikan. 

Depresiasi mata uang 

   Mata uang domestik terdepresiasi. Suku bunga domestik yang lebih rendah mempersempit spread dengan suku bunga internasional. Situasi mengarah ke arus keluar uang panas. Aliran keluar mendevaluasi mata uang domestik. Depresiasi membuat harga barang domestik lebih murah untuk pembeli asing. Karena barang lebih kompetitif (dalam hal harga relatif), ekspor seharusnya meningkat. Peningkatan ekspor berarti permintaan agregat yang lebih tinggi, mendorong produsen dalam negeri untuk meningkatkan output. 


Nama : HELDAYANTI

NIM     : B1A118009

KELAS : C


Komentar

Postingan Populer