RMK KE 6 EKONOMI MONETER II ( Peredaran Uang )

I hope you enjoyd with my blog and always stay healthy😷

PEREDARAN UANG

Dalam pembangunan perekonomian suatu negara uang merupakan peranan yang penting untuk melakukan seluruh kegiatan ekonomi. Uang yang berperan sebagai alat pembayaran yang sah dapat memperlancar kegiatan ekonomi sehari-hari. Namun di sisi lain uang juga bisa menjadi penghambat kegiatan ekonomi secara keseluruhan, hal ini bisa terjadi apabila jumlah uang beredar di masyarakat tidak dapat dikendalikan dengan baik sehingga akan menimbulkan dampak yang buruk bagi perekonomian. 

 • Pengertian uang beredar

 Money supply atau jumlah uang beredar adalah seluruh persediaan uang dalam suatu perekonomian. Jumlah uang beredar dapat mencakup uang tunai, koin, dan saldo dalam rekening giro dan tabungan. 

 Pengendalian jumlah uang beredar di Indonesia dilakukan oleh Bank Indonesia sebagai Bank Sentral yang memiliki wewenang untuk menerapkan dan melaksanakan kebijakan moneter. Selain mengendalikan jumlah uang beredar Bank Indonesia mempunyai peran dalam mencetak dan menyalurkan uang. Sehingga Bank Indonesia harus bertanggung jawab dalam memelihara kestabilan nilai uang yang diedarkan. 

 Secara teoritis jumlah uang beredar berpengaruh terhadap nilai uang yang diimplementasikan pada tingkat harga dan produk. Jika jumlah uang beredar lebih besar dibandingkan dengan produksi barang dan jasa, maka akan membawa dampak pada meningkatnya harga-harga sekaligus berarti nilai uang turun. Sebaliknya, jika jumlah uang beredar lebih kecil dibandingkan dengan produksi barang dan jasa, maka akan membawa akibat pada menurunnya tingkat harga. Inilah yang akan kemudian mempengaruhi banyak atau sedikitnya jumlah uang beredar di masyarakat (Budhi dalam Luwihadi, 2017).

Keterkaitan antara jumlah uang beredar dan inflasi dijelaskan dalam teori kuantitas yang dikemukakan oleh Irving Fisher. Dalam teori tersebut, Fisher menyatakan kenaikan jumlah uang beredar akan menstimulus terjadinya inflasi, dengan asumsi kecepatan jumlah uang beredar dan volume produksi perekonomian bersifat konstan (Nugroho dalam Aini, 2016). Peningkatan jumlah uang beredar yang berlebihan akan menyebabkan peningkatan harga. Selain itu jumlah uang beredar yang berlebihan juga dapat mengganggu laju pertumbuhan ekonomi.

  •  Jenis

Tidak ada definisi mutlak untuk uang yang tercakup dalam perhitungan. Masing-masing negara memiliki klasifikasi dan ukuran uang secara berbeda. 

Pengelompokan uang yang paling umum adalah uang beredar dalam arti sempit (narrow money) dan uang beredar dalam arti luas (broad money). Masing-masing kemudian dirinci menjadi sejumlah ukuran seperti M0, M1, M2, M3 dan M4. 


Di Indonesia, M1 adalah narrow money dan mencakup uang kartal dan koin (keduanya disebut uang kartal) dan giro berdenominasi Rupiah. Sedangkan, M2 disebut sebagai broad money, terdiri dari M1 plus uang kuasi (mencakup tabungan, simpanan berjangka dalam rupiah dan valas, serta giro dalam valuta asing), dan surat berharga yang diterbitkan oleh sistem moneter yang dimiliki sektor swasta domestik dengan sisa jangka waktu sampai dengan satu tahun. 

Catatan: apa yang disebut narrow money, broad money, M0, M1, M2, M3 dan M4, di masing-masing berbeda antar negara. Negara lain mungkin mendefinisikan M0 dan M1 sebagai uang sempit dan biasanya termasuk koin dan uang kertas yang beredar ditambah uang setara lainnya yang siap dikonversi menjadi uang tunai. Dan M2 mencakup M1 plus deposito jangka pendek di bank dan dana pasar uang. 

  • Pengaruh Jumlah Uang Beredar

Pengaruh jumlah uang beredar terhadap perekonomian Kita perlu memantau perubahan pasokan uang beredar karena perubahan tersebut mempengaruhi tingkat harga sekuritas, inflasi, nilai tukar, dan siklus bisnis. Dalam ekonomi, hubungan antara inflasi, pasokan uang beredar dan PDB riil dikaitkan dengan teori kuantitas uang.

 Ada bukti empiris yang kuat tentang hubungan langsung antara pertumbuhan jumlah uang beredar dan inflasi, setidaknya untuk peningkatan cepat dalam jumlah uang dalam perekonomian. Ketika sebuah negara mengalami peningkatan pasokan uang yang sangat cepat, mereka juga mengalami peningkatan harga yang sangat cepat (hiperinflasi). Karena hubungan inilah kebijakan moneter diperlukan sebagai alat untuk mengendalikan inflasi. 

  • Hubungan antara jumlah uang beredar, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi 

Pasokan uang beredar memiliki dampak besar pada perekonomian. Perubahannya dapat mempengaruhi inflasi dan pertumbuhan ekonomi. 

 Ekonom mengusulkan konsep teori kuantitas uang, yang menghubungkan jumlah uang beredar dan peredarannya (velositas) dengan inflasi dan output agregat (PDB riil). 

 Teori ini menyatakan bahwa pasokan uang beredar dikalikan velositasnya dengan harga dan output agregat.

 M x V = P x Y 

Dimana: 

 • M adalah jumlah uang beredar

 • V adalah velositas uang (berapa kali uang yang sama bersirkulasi dalam perekonomian) 

• P adalah tingkat harga umum,

 dan • Y adalah output agregat. Perputaran uang tidak banyak berubah dari tahun ke tahun. 

Jadi, kita bisa fokus pada tiga variabel lainnya. Misalnya, ketika penambahan jumlah uang beredar (M) jauh lebih cepat daripada pertumbuhan output agregat (U), harga (P) akan naik dan menciptakan tekanan inflasi dalam perekonomian. Atau dengan kata lain, peningkatan pasokan uang yang lebih tinggi daripada pertumbuhan ekonomi akan menghasilkan tekanan inflasi yang meningkat. 

  • Kebijakan moneter untuk memengaruhi persediaan uang 

Kebijakan moneter adalah kebijakan ekonomi untuk mempengaruhi jumlah uang yang beredar dalam perekonomian. Prosesnya adalah melalui apa yang oleh para ekonom sebut sebagai penciptaan uang. 

Pada dasarnya, kebijakan moneter kontraktif adalah untuk mengurangi jumlah uang beredar, sedangkan kebijakan moneter ekspansif adalah untuk meningkatkannya. Keduanya menggunakan instrumen yang sama, yaitu tingkat kebijakan, persyaratan cadangan atau cadangan wajib, dan operasi pasar terbuka. 

 Penerapan kebijakan moneter harus bijaksana. Kita dapat melihat dalam persamaan teori kuantitas uang, di mana ketika jumlah uang beredar meningkat, ada dua kemungkinan, peningkatan output agregat atau kenaikan harga. Yang pertama tidak diragukan lagi lebih diinginkan daripada yang kedua. 

 Salah satu cara yang dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi dari tahun ke tahun adalah melalui perkembangan sektor keuangan yang semakin pesat dewasa ini. Tetapi seiring perkembangan moneter menyebabkan hubungan antara jumlah uang beredar dan pertumbuhan ekonomi maupun inflasi cenderung kurang stabil. Bahkan bagi Indonesia hal ini berlanjut pada krisis ekonomi dan politik yang telah menyebabkan kerusakan yang cukup siginifikan terhadap sendi-sendi perekonomian nasional (Prayitno dalam Samosir, 2012). Indikator yang digunakan untuk menghitung pertumbuhan ekonomi adalah Product Domestic Bruto (PDB). I 

Uang Beredar dan Komponennya (triliun Rp)

Berdasarkan faktor yang memengaruhi, peningkatan M2 pada Juli 2020 disebabkan oleh kenaikan aktiva luar negeri bersih. Peningkatan aktiva luar negeri bersih tercatat sebesar 17,6 persen (yoy) pada Juli 2020, lebih tinggi dibandingkan dengan kenaikan pada Juni 2020 sebesar 12,1 persen (yoy).

 Sementara itu penyaluran kredit pada Juli 2020 tercatat tumbuh stabil 1 persen (yoy). Sementara itu, keuangan pemerintah tumbuh positif, meskipun mengalami perlambatan yang tercermin pada pertumbuhan tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat yang melambat dari 43 persen (yoy) pada Juni 2020 menjadi 40,8 persen (yoy) pada Juli 2020. 


  • Contoh Data 

Bank Indonesia mencatat pertumbuhan uang beredar yang lebih cepat pada Juli 2020, dibandingkan sebulan sebelumnya. Hal ini bisa menjadi salah satu indikator pergerakan ekonomi. 

Oonny Widjanarko, Direktur Eksekutif Informasi Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) menyampaikan likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) meningkat pada Juli 2020. 

Peningkatan didukung komponen uang beredar dalam arti sempit (M1) dan uang kuasi. "Posisi M2 pada Juli 2020 tercatat Rp6.567,7 triliun atau meningkat 10,5 persen (year on year/yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 8,2 persen (yoy)," kata Onny dalam laman resmi BI seperti dilansir Bareksa, Senin (31/8/2020).

Berdasarkan faktor yang memengaruhi, peningkatan M2 pada Juli 2020 disebabkan oleh kenaikan aktiva luar negeri bersih. Peningkatan aktiva luar negeri bersih tercatat sebesar 17,6 persen (yoy) pada Juli 2020, lebih tinggi dibandingkan dengan kenaikan pada Juni 2020 sebesar 12,1 persen (yoy). 

Sementara itu penyaluran kredit pada Juli 2020 tercatat tumbuh stabil 1 persen (yoy). Sementara itu, keuangan pemerintah tumbuh positif, meskipun mengalami perlambatan yang tercermin pada pertumbuhan tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat yang melambat dari 43 persen (yoy) pada Juni 2020 menjadi 40,8 persen (yoy) pada Juli 2020. Onny menjelaskan pertumbuhan M1 tercatat sebesar 13,1 persen (yoy) pada Juli 2020, lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada Juni 2020 sebesar 8,2 persen (yoy), didorong oleh peningkatan uang kartal dan giro rupiah.

Pertumbuhan uang kuasi juga semakin pesat, menjadi 9,7 persen (yoy) pada Juli 2020 dibandingkan 8,1 persen (yoy) pada bulan sebelumnya. Meskipun demikian, bila dilihat dalam tabel peraga BI, pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Indonesia pada Juli terpantau masih negatif. Sementara itu, surat berharga selain saham tumbuh 4,9 persen (yoy) pada Juli 2020, lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 31,4 surat berharga selain saham tumbuh 4,9 persen (yoy) pada Juli 2020 (yoy). 


NAMA : HELDAYANTI

NIM     : B1A118009

KELAS : C




Komentar

Postingan Populer